Sabtu, 19 Februari 2011

Mengenal Sang Pencipta Melalui Asma dan Sifat-SifatNya

Penulis : nur'aini
“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata (Al-‘Aalimul Ghoib wa Syahaadah) , Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmaan) lagi Maha Penyayang (Ar-Rahiim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Maalik), Yang Mahasuci (Al-Quddus), Yang Mahasejahtera (As-Salam), Yang Mengaruniakan Keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Mahaperkasa (Al-Azis), Yang Mahakuasa (Al-Jabbaar), Yang Memiliki Segala Keagungan (Al-Mutakabbir), Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Khaaliq), Yang Mengadakan (Al-Baari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Hasyr [59] : 22-24).

Ilmu Pengetahuan dan Sains menyatakan bahwa cahaya Matahari adalah sumber kehidupan bagi manusia, binatang dan tumbuhan yang ada di dunia ini. Tanpanya, berbagai bakteri dan virus akan bebas menyerang dan mengancam kehidupan. Tidak ada keraguan di dalamnya, setiap orang mengetahui dan meyakini hal tersebut. Cahaya matahari ini dipancarkan setiap hari dimulai sejak terbitnya hingga terbenamnya. Di pagi dan siang hari inilah manusia dan segala hewan serta tumbuhan memanfaatkan keberadaan matahari dan sinarnya secara maksimal.

Tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari agar terjadi proses pembentukan hijau daun yang berfungsi sebagai dapur umumnya. Demikian pula manusia. Pada waktu itu manusia tidak hanya pergi bekerja mencari nafkah. Namun yang terpenting, manusia tanpa disadari sesungguhnya sedang menyempurnakan proses perkembangan hidupnya. Pada saat itu dengan bantuan cahaya matahari, sel-sel manusia atas izinNya bekerja menyempurnakan perkembangan tubuhnya, tulang, dan sendi adalah di antaranya. Betapa banyak penyakit yang disebabkan oleh kekurangan cahaya matahari.

Sebaliknya, terus menerus di bawah sorotan cahaya matahari yang terik juga berbahaya bagi kesehatan. Cahaya matahari dapat dihindari, dapat terhalang dan dihalangi oleh sesuatu. Ketika matahari sedang terik-teriknya, kita bisa menggunakan bantuan payung atau topi untuk melindungi diri kita. Cahaya matahari juga bisa terhalang oleh bangunan-bangunan tinggi di kota ataupun terhalang oleh gunung-gunung. Bahkan di kutub, terutama kutub selatan, orang jarang sekali menerima cahaya matahari.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nuur [24] : 35).

Namun tidak demikian dengan cahaya Allah. Cahaya Allah berlapis-lapis dan kekal. Cahaya ini menembus hingga ke segenap penjuru dan sudut jagat raya. Bumi, bulan, bintang, langit, dan seluruh galaksi yang jumlahnya diperkirakan mencapai milyaran ini semuanya menerima cahaya Allah. Sebaliknya, benda-benda kecil yang tersembunyi seperti semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam di dalam gua di hutan rimba belantara ketika malam gelap gulita pun dapat ditembusnya. Demikian pula hati manusia. Oleh sebab itulah Allah mengetahui apa yang berada di balik hati manusia dan apa yang dibisikkannya. Itulah Allah SWT, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Menyaksikan, Yang Mahatinggi.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Al-An’am [6] : 59).

Di bawah kekuatan Mahadahsyat inilah diatur dan ditataNya seluruh jagat raya ini hingga sedemikian rupa. Semua benda-benda ini tunduk patuh terhadap kemauanNya. Semua bertasbih dengan caranya masing-masing. Inilah kerajaan Allah, Yang Mahacerdas, Yang Mahaagung, Yang Mahamulia, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Pemelihara, Yang Ghaib, Yang Mahabenar.

”Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’ [17] : 44).

Cahaya Allah ini begitu sempurna dan indah. Namun sebagaimana sifat cahaya yang menyilaukan, bila cahaya matahari saja manusia tak sanggup menatapnya, apalagi menatap Sang Maha Pemilik Cahaya. Inilah yang terjadi terhadap Nabi Musa AS ketika ia memohon Allah SWT agar diizinkan menatapNya.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." (QS. Al-‘Araaf [7] : 143).

Allah, Dia-lah Yang Maha Bercahaya, Yang Mahaindah, Sang Pemancar Kasih Sayang, Sang Pembawa Kebaikan, Yang Mahasabar, Yang Memberi Rezeki, Yang Maha Menentukan. Allah, Dia-lah yang menunjuki manusia cahaya kepada jalan yang lurus, jalan yang benar. Sesungguhnya mengenal dan menyembah hanya kepadaNya adalah fitrah manusia, namun bila hati manusia kotor, maka cahayaNya tidak menampakkan diri, tertutup oleh kotoran yang menyelimutinya. Namun bila manusia mau bertobat dan membersihkan diri, maka Dia akan mengampuni dan memaafkannya. Allah, Dia-lah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Memberi Petunjuk, Yang Maha Pemberi Taubat.

Katakanlah, "Dia-lah Allah, Yang Mahaesa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas [112] : 1-4).

Tiada kecintaan yang lebih dalam, lebih murni, dan lebih suci daripada kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Bukan hanya karena Dia telah memberikan segalanya kepada mahlukNya, namun terlebih karena Dia-lah kita menjadi ada. Dia yang memberi kehidupan, hingga dengan demikian, kita pun berkesempatan mengenalNya. Dia yang membuat kita mengenal dan mengetahui arti sebuah kehidupan, Dia yang mengajari segala kebaikan, kelembutan, dan kasih sayang. Dia yang mengajari arti sebuah kesabaran sekaligus ketegasan serta kedisiplinan. Dia yang tidak pernah bosan merahmati mahluknya, membimbing serta menunjuki jalan yang benar, jalan yang lurus.

Rasulullah bersabda bahwa kenikmatan tertinggi di surga adalah kenikmatan memandang Wajah Allah Azza wa Jalla, Sang Maha Pencipta, Sang Raja Dari Segala Raja. Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang, “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb?” Beliau menjawab, “Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama, ketika tidak terhalang awan?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Begitu pula kalian memandangNya pada hari Kiamat.”

Dia yang dengan setia setiap waktu dan senantiasa mau menyediakan waktuNya untuk mendengar keluh kesah apa pun dan dalam keadaan bagaimana pun hambaNya yang datang mengadu. Dan Dia yang selalu siap memberikan maafNya betapa pun besar kesalahan dan kotornya jiwa ini. Dia Yang Memiliki 99 nama yang disebut dan sejumlah nama yang tersembunyi. Hanya kepadaMu-lah semua mahluk kembali. Maka kembalikanlah kami kelak ke tempat kembali yang mulia, di sisiMu Ya Allah, di sisi kekasihMu Muhammad SAW, di sisi para Rasul, di sisi para hambaMu yang taqwa, Yang MemuliakanMu, Yang MengagungkanMu. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami ini, Amin Ya Rabbal ’Alamin.

Sabda Rasulullah, “Allah SWT memiliki sembilan puluh sembilan nama – seratus kurang satu – tidaklah menghafalnya kecuali akan dimasukkan ke dalam surga, Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai yang ganjil.” (HR. Bukhari – Muslim).

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang banyak kesedihan atau gundah gulana lalu berdo’a : “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, ubun-ubunku ada pada tanganMu, keputusanMu berlaku atasku, ketentuanMu adil untukku, aku memohon kepadaMu dengan semua namaMu yang engkau namakan kepadaMu atau yang telah engkau ajarkan kepada seseorang dari mahlukMu atau yang telah Engkau turunkan di dalam kitabMu atau nama yang Engkau rahasiakan di dalam ilmu ghaibMu, jadikanlah Al-Qur'an sebagai pelipur lara hatiku dan cahaya dadaku dan penghapus kesedihan dan kerisauanku," maka pastilah Allah SWT akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya dan diberikannya jalan keluar." (HR. Ahmad).

Wallahu a'lam bishshawab. (www.kotasantri.com).


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Puasa Mengantarkan Kesuksesan di Akhirat dan Juga Dunia
Penulis : Hifizah Nur
Kalau kita mempelajari sejarah hidup mereka yang sukses, maka kita akan menemukan ada beberapa kesamaan pada diri mereka yang bisa dilihat dari segi KARAKTER. Mereka mempunyai KARAKTER PARA PEMENANG, seperti sifat pembelajar, berpikir secara ilmiah, percaya diri, disiplin, suka bekerja keras, mempunyai kecerdasan emosional, berpikir positif, mempunyai target atau visi hidup yang jelas, dan lain-lain sejenisnya. Sebaliknya, mereka yang gagal biasanya mempunyai karakter yang berlawanan.

Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa bangsa kita Indonesia masih belum bisa lepas dari keterpurukan. Berbagai masalah kronis seperti korupsi masih juga merajalela meskipun alhamdulillah sudah ada usaha penangkapan dari KPK. Problem kemiskinan belum juga meninggalkan negeri ini, seperti terlihat dalam berita meninggalnya 21 orang miskin yang antre pembagian zakat di Pasuruan.

Kalau kita kaji lebih dalam, hal ini memang wajar terjadi, mengingat sebagian besar bangsa Indonesia yang masih belum 'mengubah diri' menjadi karakter para pemenang. Mari kita kaji satu persatu.

1. Malas belajar dan juga membaca (lawan dari sifat pembelajar). Sungguh disayangkan mayoritas bangsa ini yang notabene-nya umat Islam masih lemah dari segi pendidikan, yang diperparah dengan sifat malas belajar, yang bisa terlihat dari tingkat konsumsi bahan bacaan yang rendah. Lebih suka menonton hiburan televisi daripada membaca buku untuk menambah ilmu. Sayang sungguh sayang, padahal ayat Al-Qur'an yang pertama kali turun adalah perintah membaca (iqra') (QS. 96 : 1), perintah untuk mempelajari kehebatan Tuhan yang telah menciptakan, perintah untuk mempelajari bagaimana penciptaan manusia, yang telah mengajarkan manusia pengetahuan dengan perantaraan kalam. Dan Nabi Muhammad SAW sangatlah menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu (Al-Hadits).

2. Berpikir irasional (lawan dari berpikir rasional/ilmiah). Masih banyak di negeri ini orang-orang yang yang memakai pola pikir irasonal dalam memecahkan permasalahan hidup. Ingin lulus, ingin dapat kerja, ingin bisnis lancar, dan sebagainya lalu pergi ke dukun, atau 'orang pintar', atau bahkan ke kuburan. Padahal hal-hal syirik semacam ini dalam Islam sangat bertentangan dengan aqidah Islam, bertentangan dengan ajaran tauhid (menjadikan Allah satu-satunya Yang Mahakuasa), dan dosa syirik sangat besar serta sulit diampuni oleh Allah. Maka tidak heran banyak acara televisi dan film yang berbau klenik. Sementara pemerintah, lebih khusus lagi Depkominfo dan Depdiknas, tidak mempunyai 'tangan' untuk melarangnya, dan MUI hanya sanggup memberikan anjuran mengurangi acara-acara semacam itu. Padahal kalau kita lihat mereka yang di negara maju, selalu mencoba menyelesaikan permasalahan dengan cara rasional/ilmiah.

3. Suka jalan pintas dan bekerja sekedarnya (lawan dari suka bekerja keras dan disiplin). Banyak pula di negeri ini orang-orang yang suka mencari jalan pintas daripada jalan kerja keras. Lebih suka membeli gelar daripada belajar. Padahal sunnatullah menunjukan bahwa prestasi hanya bisa diraih dengan kerja keras dan proses yang panjang. Dan dari budaya jalan pintas itu bisa melahirkan budaya sogok, yang akhirnya melahirkan budaya korupsi dan kolusi. Dua problem besar yang telah membawa kehancuran ekonomi negeri ini. Lebih parah lagi kalau budaya jalan pintas ini bergabung dengan pola pikir irasional. Maka tidak heran begitu banyak mereka yang ditipu 'orang bodoh' yang mengaku bisa menggandakan uang dalam sekejap. Tidak heran pula kalau ada contoh universitas Islam dan bahkan pejabat tinggi yang tertipu oleh orang yang mengaku punya teknologi mengubah air menjadi minyak.

4. Mudah berkelahi sendiri dan berpecah belah (lawan dari memiliki kecerdasan emosi). Satu lagi yang mengganggu di negeri ini adalah begitu mudahnya bangsa ini mengumbar emosi amarah, berkelahi, dan berpecah belah. Di level anak-anak sekolah dan pemuda, kita bisa melihat adanya budaya tawuran, bahkan ada yang sampai meninggal di bulan suci Ramadhan tahun lalu. Di level orang dewasa pun kita melihat ada banyak parpol dan ormas yang berkelahi dan kemudian terpecah belah. Padahal salah satu kunci penting dalam membangun bangsa adalah adanya persatuan. Bagaimana mungkin mereka membangun bangsa kalau organisasi mereka sendiri masih kacau. Orang yang sukses biasanya memiliki kecerdasan emosi yang baik, yang tercermin dari pengendalian emosi seperti tidak mudah marah, tetap menjaga akhlak meskipun dengan orang yang berbeda pendapat dengannya, memilih hal-hal besar yang lebih prioritas (menjaga kesatuan) daripada hal-hal kecil (melampiaskan emosi). Itulah sebabnya salah satu karakter orang yang taqwa, yang menjadi tujuan dari puasa, adalah menahan emosi amarah dan memaafkan kesalahan orang lain (QS. 3 : 134).

5. Puasa mengantarkan kesukesan akhirat. Puasa yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman, berfungsi untuk mengasah kecerdasan emosi. Dengan puasa, kita dilatih mengendalikan diri (self-control), menahan hawa nafsu dari yang paling mendasar berupa kebutuhan makanan dan seksual, sampai yang tinggi seperti menahan amarah. Sedemikan besarnya amalan puasa ini, sehingga Allah menjanjikan kesuksesan akhirat bagi mereka yang menjalankannya dengan baik. Dengan berpuasa, kita menjadi orang yang taqwa, dan banyak kita baca di Al-Qur'an bahwa orang taqwa dijanjikan masuk surga (QS. 3 : 14-15, 3 : 133, 15 : 45, 19 : 60-63, 51 : 15, 54 : 54-55). Bahkan Allah menjanjikan ada pintu khusus ke surga bernama Ar-Rayyan bagi mereka yang nilai puasanya bagus (Al-Hadits).

6. Puasa mengantarkan kesukesan dunia juga. Namun, tahukah kita bahwa puasa juga bisa membawa kepada kesuksesan di dunia? Sebuah artikel menarik berjudul "Self-Control is The Key to Success" (San Fransicto Chronicle) menunjukan hal itu. Diceritakan seorang psikolog bernama Walter Mischel melakukan eksperimen pengamatan kepada anak-anak berusia 4 tahun, kemudian melakukan pengamatan bagaimana keadaan mereka setelah dewasa, lalu menemukan adanya kaitan antara pengendalian diri dan kesukesan perjalanan hidup mereka. Berikut ringkasannya.

Self-Control is The Key to Success.

AROUND 1970, psychologist Walter Mischel launched a classic experiment. He left a succession of 4-year-olds in a room with a bell and a marshmallow. If they rang the bell, he would come back and they could eat the marshmallow. If, however, they didn't ring the bell and waited for him to come back on his own, they could then have two marshmallows.

In videos of the experiment, you can see the children squirming, kicking, hiding their eyes -- desperately trying to exercise self-control so they can wait and get two marshmallows. Their performance varied widely. Some broke down and rang the bell within a minute. Others lasted 15 minutes.

The children who waited longer went on to get higher SAT scores. They got into better colleges and had, on average, better adult outcomes. The children who rang the bell quickest were more likely to become bullies. They received worse teacher and parental evaluations 10 years later and were more likely to have drug problems at age 32.


Yet the Mischel experiments, along with everyday experience, tell us that self-control is essential. Young people who can delay gratification can sit through sometimes boring classes to get a degree. They can perform rote tasks in order to, say, master a language. They can avoid drugs and alcohol. For people without self-control skills, however, school is a series of failed ordeals. No wonder they drop out. Life is a parade of foolish decisions: teenage pregnancy, drug use, gambling, truancy and crime.
***
Penutup

Segala puji bagi Allah yang sungguh sayang kepada kita ummatNya dengan memberikan perintah puasa. Puasa selain membawa kepada kesuksesan di akhirat, ternyata juga membawa kepada kesuksesan di dunia. Maka tidaklah heran kalau pemeluk agama lain juga ada puasa dalam versi mereka. Sayang sekali bangsa Indonesia yang mayoritasnya umat Islam rajin melakukan puasa, tetapi lalai dengan dengan nilai-nilai dan kebaikan yang dihasilkan dari puasa. Kita berdo'a dan berharap kepada Allah SWT, semoga puasa kita tidak sia-sia. Semoga puasa kita memberikan kebaikan di akhirat dan juga di dunia. Amien. (www.kotasantri.com).



Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan
Bulan yang penuh dengan kemuliaan
Banyak dinantikan
Oleh setiap insan yang beriman

Bulan Ramadhan
Bulan yang penuh dengan keberkahan
Pahala dilipatgandakan
Keridhaan Allah yang menjadi idaman

Bulan Ramadhan
Bulan melatih kesabaran
Akan dapat dan tumbuh melalui latihan
Menuju jiwa yang penuh ketaatan

Bulan Ramadhan
Bulan yang penuh dengan keagungan
Malam Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan
Melebihi seribu bulan

Bulan Ramadhan
Bulan yang penuh dengan kebaikan
Tercipta rasa kebahagiaan
Karena ilmu yang sudah diamalkan




Tauhid Kemerdekaan Manusia
Penulis : Arda Dinata
Dalam tarikh Islam, ada kisah yang menarik direnungi berkait dengan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Dikisahkan, sebelum terjadi perang qadisiyah, Ruba’i bin Amir, salah seorang prajurit muslim yang dikirim untuk menghadap Panglima Rustum, yang memimpin pasukan Persia kala itu.

Pada waktu, Ruba’i masuk ke perkemahan Panglima Rustum, ia dapatkan semua pembesarnya berpakaian kenegaraan, sedangkan majelisnya dihiasi dengan permadani dan sutra yang serba mahal. Panglima Rustum duduk di singgasana emas dan bermahkotakan emas yang dihiasi dengan batu permata yang serba mahal.

Sementara itu, Ruba’i bin Amir hanya berpakaian sederhana sekali. Dengan menyandang perisai dan menunggang kuda, ia masuk ke dalam perkemahan itu tanpa menghiraukan sedikit pun keadaan sekelilingnya. Ia masuk terus ke dalam dengan tetap menunggang kudanya dan membiarkannya kaki kuda itu mengotori hamparan permadani yang serba mahal itu. Lalu, Ruba’i turun dari kudanya dan ia tambatkan pada salah satu bantal yang ada di dekatnya. Dan dengan segera ia menghadap Panglima Rustum dengan tetap menyandang senjata dan perisainya.

Melihat itu, para pembesar segera berseru, “Letakan senjata itu!”

Ruba’i menjawab, ”Aku datang kemari tidak lain hanyalah atas undangan kalian. Jika kalian senang, biarkan aku dalam keadaanku, seperti ini, atau kalau tidak, aku akan pulang.”

“Biarkan ia menghadap!” kata Panglima Rustum.

Akhirnya, Ruba’i menghadap Panglima Rustum, dengan tombaknya masuk hamparan permadani. Dan seketika itu pula hamparan itu koyak-koyak. Mereka bertanya, “Apakah yang mendorongmu masuk daerah kami?”

“Allah SWT telah mengutus kami untuk membebaskan manusia dari memperhambakan diri kepada selain Allah, dan melepaskan belenggu duniawi menuju dunia bebas, dan dari agama yang sesat menuju keadilan Islam.”

Dari dialog Ruba’i bin Amir di atas, sesungguhnya telah mengajarkan kita akan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Artinya, kemerdekaan Indonesia itu harus kita maknai sebagai aplikasi dari tauhid kemerdekaan manusia. Di mana, setiap manusia itu sesungguhnya telah dimerdekakan dari penghambaan pada materi, penghambaan kepada hawa nafsu, dan hal-hal duniawi untuk diantarkan kepada penghambaan total kepada Allah semata-mata. Inilah arti kemerdekaan yang Islam ajarkan.

Allah berfirman dalam QS. Al-An’am : 162-163, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”

Jadi, seluruh rakyat Indonesia sudah saatnya untuk menerapkan arti kemerdekaan itu secara tepat. Bukankah, seseorang (bangsa) baru dikatakan merdeka ketika ia mampu melepaskan dirinya dari segala perbudakan dan segera untuk suka cita menghamba kepada Allah SWT.

Wallahu a'lam.



Agar Puasa Tidak Mubazir
Penulis : Sylvia Nurhadi
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2] : 183).
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Sebagian besar umat Islam tentunya telah menyadari kewajiban melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Namun sudahkah puasa yang kita laksanakan tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkanNya?
Tidak seperti ibadah-ibadah lain seperti shalat, zakat, dan lain-lain, puasa adalah satu-satunya ibadah yang tidak mungkin diketahui orang lain. Puasa adalah hubungan langsung dengan Tuhannya, karena hanya Dia dan orang yang bersangkutanlah yang mengetahui apakah ia berpuasa atau tidak.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya." (QS. Qaaf [50] : 16).
***
Tiga Macam Tingkatan Puasa
Para ulama sepakat bahwa puasa terbagi atas 3 tingkatan, yaitu :
1. Puasa yang dibangun di atas pengertian menahan makan dan minum saja. Puasa semacam ini tidak akan mengakibatkan perubahan atau peningkatan spiritual, sebagaimana pernyataan sebuah hadits, ”Banyak orang yang melakukan shaum (puasa) akan tetapi tidak ada hasil untuknya kecuali haus dan lapar saja."
2. Puasa yang dibangun dengan pengertian dan pemahaman yang benar, yaitu mengendalikan segala perbuatan yang bersifat keduniawian, seperti menahan nafsu makan, minum, syahwat, amarah, dan juga dari perbuatan dan perkataan kotor.
3. Puasa yang tidak hanya mengendalikan segala perbuatan keduniawian saja, namun juga menahan hati dari mengingat selain Allah.
***
Pengertian Takwa
Berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 183 di atas, jelas dapat diketahui bahwa puasa yang dimaksud adalah puasa yang dapat mengakibatkan manusia menjadi takwa. Lalu seperti apakah manusia yang takwa itu? Manusia yang takwa adalah mereka yang takut akan Tuhannya, dalam arti ia takut ditinggalkan olehNya, takut tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayangNya. Manusia bertakwa adalah mereka yang membersihkan diri dari segala yang tidak disukai Tuhannya. Untuk itu, ia rela menjauhi segala larangan dan mengerjakan segala perintahNya. Manusia yang takwa bersyukur atas nikmat yang diberikan dan bersabar atas musibah yang menimpanya. Dan itu dilaksanakan setelah berijtihad, yaitu berupaya keras dan maksimal agar mencapai apa yang diinginkannya sesuai dengan ketentuanNya.
“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2] : 177).
Sedangkan imbalan yang akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaaq [65] : 2-3).
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaaq [65] : 4).
Ciri-ciri orang takwa terlihat jelas dari perilakunya, mereka tidak berpenyakit hati (sombong, dengki, iri, riya, dan lain-lain), berakhlakul kharimah atau mempunyai akhlak yang baik, dan hidupnya senantiasa tenang dan tentram.
Sebagai kesimpulan agar puasa mencapai takwa, beberapa persyaratan selain menahan nafsu makan, minum, dan syahwat, maka harus dipenuhi hal-hal antara lain :
- Puasa karena iman.
- Meninggalkan ucapan dan perbuatan kotor, termasuk di antaranya adalah meninggalkan ‘ghibah’ (membicarakan kejelekan orang lain) dan menghindari pertengkaran.
- Melakukan ibadah-ibadah sunnah seperti dzikir, membaca Al-Qur'an, melaksanakan shalat-shalat sunnah (Tarawih, Tahajud, Dhuha, dan lain-lain).
- Memberi makan dan minum bagi orang yang berpuasa ketika waktu berbuka.
- dan lain sebagainya.
Sebagai tambahan, ada hadits yang mengatakan bahwa tidak diterima puasa orang yang tiga hari menjelang puasa (Ramadhan) tidak bertegur sapa dengan pasangannya (suami-istri) ataupun tetangga terdekatnya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 102).
Wallahu a’lam bishshawab. (www.kotasantri.com).



Bahagia Menyambut Ramadhan
Penulis : Muhammad Rizqon
Nama atau kata adalah identik dengan sebuah makna. Makna itu bisa dalam atau dangkal, luas atau sempit, tajam atau polesan, tergantung dari kedalaman, keluasan, atau ketajaman seseorang dalam mempersepsikan nama tersebut. Kata “Fahmu” (paham), “Sabr” (sabar), “Ikhlas” bagi seorang ulama bernama Yusuf Al-Qardawi adalah kata-kata yang syarat makna, sehingga dari masing-masing kata itu lahir sebuah buku dengan bahasan yang sangat mendalam. Namun bagi seorang awam, betapa banyak kita jumpai ia salah mempersepsikan makna dari kata-kata tersebut. Dan pada akhirnya, persepsinya yang dangkal hanya melahirkan tindakan-tindakan kehidupan yang juga dangkal dan kurang bermakna. Di sinilah kita melihat relevansi “amal” dengan “pemahaman” yang dimiliki seseorang.
Mereka yang memiliki pemahaman yang benar, akan beramal dengan benar. Sebaliknya, mereka yang memiliki pemahaman yang dangkal, akan beramal secara dangkal pula. Tidak memiliki makna terindah bagi dirinya.
***
Allah SWT memiliki 99 nama yang baik. Dari nama-nama itu, kita bisa mengenal Allah dengan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Ar-Rahman menunjukkan bahwa Allah Maha Pengasih, Ar-Rahim menunjukkan bahwa Allah Maha Penyayang, Al-Malik Menunjukkan bahwa Allah Maha Merajai, Al-Quddus menunjukkan bahwa Allah Mahasuci, dan lain-lain. Semua makna yang terkandung dari Asma Al-Husna adalah makna-makna yang agung dan secara keseluruhan sifat-sifat Allah SWT tergambar dari nama-nama itu. Sebagai hamba, kita diperintah untuk memiliki sifat-sifat yang baik dengan mengacu dari sifat-sifat Allah tersebut sesuai dengan batas kemampuan seorang manusia. Sejauh mana sang hamba bisa mengejawantahkan sifat-sifat mulia itu dalam kehidupan, kembali lagi, tergantung dari pemahaman sang hamba akan sifat-sifat itu.
Oleh karenanya, saya memahami bahwa “barang siapa yang mampu menghafal 99 nama baik Allah itu, maka ia akan masuk surga”, tentu berkolerasi dengan pemahaman dan amal shaleh yang ia produksi dalam kehidupan. “Menghafal” berarti telah terbenamnya kesadaran makna indah itu dalam hati sang hamba dan telah mampu membangkitkan amal-amal kebaikan yang mengacu pada kemuliaan nama-nama itu.
Rasulullah SAW juga memiliki julukan atau nama-nama. Al-Amin adalah nama julukan yang beliau sandang sejak sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, karena beliau terkenal sebagai orang terpercaya di kalangan orang Quraisy. Beliau juga dikenal sebagai Al-Qur'an berjalan, karena seluruh perilaku hidupnya mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an Al-Karim. Memahami nama julukan beliau tentu dimaksudkan agar kita mampu meneladani akhlak-akhlak agung beliau.
***
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Dalam rangka lebih mengenal esensi dari bulan Ramadhan yang akan segera dihadapi, pada pengajian rutin bapak-bapak pekan lalu, kami mencoba menggali makna yang terkandung dari nama-nama julukan yang sering disematkan bagi bulan Ramadhan. Diharapkan dengan memahami makna-makna itu, maka kesadaran akan datangnya bulan yang agung itu kian meresap dan menggumpal dalam jiwa, sehingga menimbulkan kerinduan dan kebahagiaan dalam menyambutnya.
Ramadhan adalah bulan pendidikan (Syahru At-Tarbiyah), karena pada bulan ini orang-orang beriman dididik untuk berlaku disiplin dengan aturan-aturan Allah SWT dan RasulNya. Secara fisik, Allah mendidik untuk disiplin dalam mengatur pola makan. Secara psikis, Allah mendidik untuk berlaku sabar, jujur, menahan amarah, empati dan berbagi kepada orang lain, dan sifat-sifat luhur lainnya. Dan secara fikri, Allah mendidik agar orang-orang beriman senantiasa bertafakkur dan mengambil pelajaran-pelajaran yang bermakna bagi kehidupannya.
Ramadhan adalah bulan perjuangan (Syahru Al-Jihad), karena untuk sukses menjalani Ramadhan dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Allah hendak mengajarkan bahwa untuk sukses dalam kehidupan pun dibutuhkan perjuangan, yaitu mengendalikan hawa nafsu agar tunduk dan patuh dengan ketentuan Allah dan RasulNya.
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an (Syahru Al-Qur’an), karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada Ramadhan. Sepatutnyalah pada bulan ini, interaksi kaum muslimin dengan Al-Qur'an menjadi sangat intens sebagaimana dicontohkan oleh generasi salaf yang mencurahkan waktu demikian banyak pada bulan Ramadhan untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an, baik dengan membaca, mentadabburi, dan mengamalkan kandungan-kandungan isinya.
Ramadhan adalah bulan persaudaraan (Syahru Al-Ukhuwwah). Pada bulan ini Allah mendidik kaum muslimin untuk lebih mencintai dan peduli terhadap saudara-saudaranya. Rasulullah SAW mengajarkan dengan ringan bersedekah di bulan ini, memberi makanan bagi orang yang berpuasa, menunaikan zakat, dan membuang dengki dan sifat-sifat buruk terhadap saudaranya.
Ramadhan adalah bulan ibadah (Syahru Al-‘Ibadah). Dalam bulan ini Allah membuka peluang bagi hamba-hambaNya untuk beribadah (mahdhah) sebanyak-banyaknya, karena pada bulan ini pahala ibadah dibalas dengan berlipat ganda. Allah SWT mendidik kaum muslimin untuk merealisasikan misi hidup dengan senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Target keimanan yang diharapkan adalah hamba-hamba yang selalu mengorientasikan hidup untuk beribadah, sebagaimana firman Allah, "Katakanlah : Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al-An’aam [6] : 162-163).
Masih ada beberapa nama yang disematkan untuk Ramadhan. Bulan jama’ah, bulan dakwah, bulan diturunkan Lailatul Qadar, bulan mulia, bulan suci, bulan penuh berkah, dan lain-lain. Nama-nama itu mencerminkan makna, esensi, dan juga kebaikan yang teramat banyak. Bagaimana kita harus beramal di dalam bulan Ramadhan, kita bisa mengambil spirit dari nama-nama itu.
Barang siapa yang gembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah SWT akan memasukkan sang hamba ke dalam surgaNya. Bagaimana bisa? Karena gembira menyambut Ramadhan adalah cerminan iman. Semakin bahagia dan rindu seorang hamba kepada Ramadhan, semakin dalam keimanan yang dimiliki seseorang. Tentu pemahaman ini bukan untuk menghakimi dan mengukur keimanan orang lain, tetapi untuk menghakimi dan mengukur keimanan di dalam diri sendiri.
Semoga kita bisa disampaikan ke bulan Ramadhan. Dan semoga kita bisa mengoptimalkan bulan Ramadhan untuk taqarrub ilallah, membersihkan hati, dan memperkuat simpul-simpul jama'ah.
”Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadhan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Tabrani).
Wallahu a'lam bishshawab. (www.kotasantri.com)



9 Indikator Anda Gagal Meraih Keutamaan Ramadhan

Memasuki pertengahan ramadhan beberapa dari kita mungkin baru menyadari betapa kurangnya ibadah yang kita lakukan di bulan suci ini. Apakah kita termasuk orang yang berhasil meraih keutamaan ramadhan atau justru kita termasuk orang yang gagal dalam menjalankannnya?
Telah disebutkan dalam salah satu hadits, rasulullah bersabda “Berapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga...”. dari sini jelas sekali bahwa di bulan puasa ini kita tidak hanya dituntut untuk menahan lapar dan dahaga saja, tetapi lebih dalam ke arah spiritual dan membangun kepribadian diri yang kuat.
Memang hanya hak Allah untuk menilai ibadah hambanya, khususnya ibadah puasa. Namun kita juga bisa sedikit mengambil beberapa parameter untuk mengukur diri kita apakah kita termasuk orang yang bisa meraih keutamaan di bulan ramadhan. Beberapa tanda kegagalan menjalankan ibadah puasa adalah:
PERTAMA, ketika target pembacaan Al-Qur’an yang dicanangkan minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan ramadhan. Di bulan ini, pembacaan Al-Qur’an merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah tersebut malam lailatul qadar.. Pada bulan ini pula Jibril as biasa mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW.
Orang yang berpuasa dibulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur’an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Kenapa minimal harus dapat mengkhatamkan satu kali sepanjang bulan ini? Karena itulah terget minimal pembacaan Al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
KEDUA, Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang lain, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya. Seperti yang sudah banyak diketahui, hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman masuk masuk kedalam kerongkongan. Tapi puasa juga mengajak pelakunya untuk bisa menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satu yang dilakukan oleh mulut. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia. (HR. Bukhari).
KETIGA, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekaman kedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus daripada informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya. Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Salah mengarahkan pandangan, bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman dalam jiwa dan pikiran.
Ini sebabnya mengapa Islam mewasiatkan sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat mata. Apalagi di Indonesia fasilitas internetnya sangat mudah untuk diakses mengharuskan kita untuk menjaga pandangan sebaik mungkin.
Puasa yang tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya, boleh jadi secara hukum puasanya sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.
KEEMPAT, ketika malam-malam ramadhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do’a-do’a tertentu. Ibadah shalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih, merupakan amal ibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga.
Telah dikisahkan bahwa para sahabat dahulu, berlomba untuk bisa melakukan shalat tarawih di belakang Rasulullah. Umar bin Kaththab bahkan beriztihad untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 20 rakaat, sehingga kaum muslimin lebih termotivasi untuk menghidupkan malam Ramadhan.
KELIMA, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan “balas dendam” dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berarti nilai pendidikan puasa akan hilang.
Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. “Puasa itu adalah perisai”sabda Rasulullah SAW
dari hadist Imam Bukhari. Hanya dalam puasalah, seseorang dilarang melakukan perbuatan yang sebenarnya halal dilakukan. Hasil pendidikan itu, akan tercermin dalam pribadi orang-orang yang lebih bisa bersabar, menahan diri, tawakal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.
Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat terbuka.
KEENAM, ketika bulan ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah. Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.
KETUJUH, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan idul fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulan mulia tersebut.
Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam didalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya Al-Qur’an.
Pada detik-detik terakhir menjelang usainya ramadhan, mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan bulan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia. Ada juga yang bergumam jika mereka dapat merasakan Ramadhan sepanjang tahun.
KEDELAPAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari ”merdeka” dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai beban dan keterkungkungan.
KESEMBILAN, setelah ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindaklanjuti pada bulan-bulan selanjutnya. Misalnya memelihara kesinambungan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal dan puasa-puasa sunah lainnya, shalat malam, membaca Al-Qur’an, ataupun bersedekah dan berinfak.
Amal-amal ibadah satu bulan ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkatkan untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan di bulan ramadhan.
Akhir kata, marilah kita perbaiki diri kita di bulan ramadhan ini, dan kita tingkatkan kualitas kepribadian kita agar kita mampu meraih keutamaan bulan ramadhan.


Dikutip Humas Setda Kab. Sragen dari Buletin Hidayah (dari berbagai sumber/ICMI)








HIKMAH : Jenazah dan Kain Kafan yang Masih Utuh

Kisah nyata ini tentang delapan preman yang suka membuat onar dikampung halaman sebut saja kampung banyu. Keberadaan mereka meresahkan kehidupan warga. Saat malam, mereka 'nongkrong' diwarung kopi. Itu bukan sekedar ngopi,melainkan untuk pesta minuman. Mereka menghabiskan sepanjang malam dengan berjudi hingga pagi hari.
Siangnya, mereka berkumpul di pangkalan ojek. Mereka menggoda perempuan yang melewati pangkalan itu. Tak jarang,mereka sering meminta uang pada tukang ojek dan penumpangnya. Selebihnya,mereka berjudi ditempat itu. Dan ketika lapar tiba,mereka pergi kepasar dekat kampung. Tujuannya,untuk meminta jatah "keamanan". Begitulah kegiatan delapan preman itu sepanjang hari. Bisa dibilang,mereka ditakuti warga kampung dan pasar.
Keberadaan mereka itu dulu sangat meresahkan warga. Rusdi sebut saja demikian merupakan pentolan kelompok preman ini. Dia dianggap sang komandan, karena usianya lebih tua dari yang lain. Di antara rekan-rekannya,dia paling ditakuti. Dia punya satu anak. Istrinya, pergi ke Arab Saudi menjadi TKW. Sudah lama dia tidak pulang.
Seperti biasa,malam itu Rusdi dan kawan-kawan berkumpul diwarung kopi. Dia merasa aneh ketika melihat rekannya serius membicarakan sesuatu. Rusdi pun menanyakan perihal pembicaraan mereka. Ternyata,mereka sedang khawatir dengan rencana adanya pengajian di kampung itu. Seorang ustadz baru, Syakir, beserta istrinya, Hajar, keduanya sebenarnya mempunyai rencana hendak membuat kegiatan pengajian di kampung itu.
Rusdi pun sedikit berang. Berita itu mengerutkan dahinya. Bagi Rusdi, hal tersebut merupakan ancaman besar. Sebab, selama ini tak ada yang bisa menghalangi keberadaan mereka. Dengan adanya pengajian, dikhawatirkan gerak langkah mereka terganggu. Mereka mungkin tak bisa lagi berpesta minuman. Banyak orang akan melarang mereka. Dan itu bisa menjadi perlawanan kolektif.
Tanpa mereka sadari,Syakir dan Hajar berjalan kaki melewati warung itu. Rusdi dan rekan-rekannya lalu menghentikan pembicaraan. Perhatian mereka kemudian tertuju pada kedua orang itu. Sepasang suami istri yang baru dua tahun tinggal dikampung itu menyapa keberadaan mereka.
Tanpa ragu, Rusdi kemudian menghampiri mereka berdua. Dia berdiri tepat dihadapan mereka berdua. Syakir tak memiliki kecurigaan sedikitpun. Bahkan,dia menyapa Rusdi dengan baik. Tapi,dengan mengacungkan jari telunjuk,Rusdi lalu menanyakan perihal kabar akan didirikannya majelis ta'lim itu. Benarkah? Pertanyaaan ini keluar dari mulut Rusdi.Syakir menjawab dengan penuh hormat dan rendah hati. Dia dan istrinya memang berencana membuat pesantren dikampung itu. Namun itu dilakukan secara bertahap. Dia terlebih dulu mengadakan pengajian dan majelis ta'lim. Rencana itu sudah mendapat restu dari pihak kelurahan dan tokoh masyarakat setempat. Dia minta maaf karena belum meminta pendapat Rusdi sebagai warga asli kampung itu.
Lalu,Rusdi mengacungkan telunjuknya kearah Syakir. Dia tidak suka jika dikampungnya ada pengajian. Dia melarang Syakir membuat majelis ta'lim. Baginya,itu hanya membuang-buang waktu waktu. Dia lalu mengancam ustadz dan ustadzah itu agar tidak melanjutkan rencana tersebut.
Jika tidak menuruti ancaman Rusdi,mereka berdua akan mendapat risiko berat. Tak tanggung-tanggung,Rusdi akan mengajak seluruh warga untuk mengusir pasangan suami istri itu. namun Syakir dan istrinya tetap bersikap tegar dengan ancaman tersebut. Sebab,dia mengadakan pengajian itu untuk mengajak penduduk agar dekat dengan Tuhan.
Ancaman yang diterima Syakir dan Hajar pada malam itu tak menyiutkan rencana mereka sedikitpun. Dia dan istrinya tetap mengajak orang sekampung untuk menghadiri pengajian. Tak diduga,para penduduk ternyata sangat antusias menghadiri pengajian itu.
Rusdi dan ketujuh rekannya merasa diremehkan. Dia kemudian menghampiri pasangan ustadz itu kerumahnya. Namun sial,saat hendak mendamprat ustadz dan ustadzah itu,Rusdi dan rekannya malah dihadang dan memperoleh cercaan dari ibu-ibu dikampung itu. Alhasil,Rusdi dan rekannya malu besar. Mereka kemudian menyusun berbagai rencana lagi untuk menggagalkan kegiatan pengajian itu.
namun sayang,setiap kali Rusdi dan ketujuh rekannya hendak meneror dan menggagalkan kegiatan dakwah itu,mereka malah mendapat kesialan. Misalnya,ketika malam hari mereka hendak memutuskan saluran kabel listrik dimajelis ta'lim,diantara mereka malah ada yang kesetrum. Memang sial.
Begitulah seterusnya. mereka melakukan teror dan memfitnah kedua pasangan itu agar tidak disukai warga. Namun sayang,Allah SWT,seakan berpihak pada kedua orang tersebut. Sebab,lambat laun,majelis ta'lim yang didirikan itu terus berkembang. Bahkan,setelah mendapat bantuan dana dari pemerintah dan masyarakat,mereka mendirikan asrama khusus untuk santri yang hendak mengaji kepada mereka.
Semakin lama,lembaga pendidikan Islam itu kian berkembang.Dan keberadaan delapan preman itu seakan hilang ditelan massa. Diantara mereka ada yang pergi ke kota dan kerja keluar negri. mereka tidak mampu berbuat apa-apa dengan semakin berkembangnya lembaga pendidikan itu. Jumlah mereka yang semula delapan orang tetap tidak berubah. Sebab kepergian sebagian rekannya,kemudian diganti dengan pemuda lain. Inilah kepandaian Rusdi dalam mengajak pemuda setempat untuk masuk dalam kelompoknya.
Pesantren Ustadz H,Syakir dan Hj.Hajar berkembang pesat. lembaga pendidikan formal kemudian didirikan. Santrinyapun sudah mencapai ratusan orang. Namun ditengah perjuangan dijalan Allah itu,Hj.Hajar meninggal dunia diusia muda karena sakit. Innalillahi wa innaa ilaihi raajiuun.
Dia meninggalkan suami tercinta dan kelima anaknya. Sebelum meninggal,dia sempat berpesan kepada suaminya agar menikah lagi. Sebab,dia ingin perjuangan suaminya terus dilanjutkan. Caranya,dia harus menikah agar ada yang mendampingi setiap langkah perjuangannya. Almarhumah kemudian dimakamkan ditanah wakaf dikampung itu.
Meninggalnya Hj.Hajar ternyata membuat senang Rusdi dan ketujuh rekannya. Sebab dengan demikian,permusuhan mereka dengan keluarga pesantren itu akan dimenangkan oleh mereka. Ustadz H.Syakir akan merasa lemah jika ditinggalkan istrinya.
Waktu silih berganti. Tahun pun berganti tahun. Rusdi tetap saja Rusdi yang dulu. Belum ada perubahan mendasar dalam hidupnya. Dia bahkan menjadi kepala preman yang semakin ditakuti di kampung dan di pasar. Dalam dirinya tak ada perubahan untuk kejalan yang lebih baik. Begitupun dengan ketujuh rekannya.
Disisi lain,Ustadz H.Syakir tetap sibuk dengan pesantrennya. Sesuai dengan wasiat istrinya yang dulu,dia kemudian menikah dengan seorang wanita salehah. Baginya,alm.Hj.Hajar merupakan inspirasi dalam kelanjutan perjuangan hidupnya.
Lalu singkatnya,30 tahun kemudian,Ustadz H.Syakir menjadi orang tua mulai yang sakit-sakitan. Urusan pesantren dikelola oleh santri dan anak-anaknya. Dan Rusdi pun kini seorang kakek. Ketujuh rekannya juga menjadi orang tua yang tak pernah berhenti menjadi penguasa dipasar dan kampung itu.
Ditengah sakit keras, Ustadz H.Syakir berwasiat kepada anak-anaknya agar dia dikebumikan dilingkungan pesantren jika meninggal. Dia ingin dikebumikan dipesantrennya berdampingan dengan jenazah istrinya yang dulu. Dia meminta agar jenazah alm. Hj.Hajar dipindahkan disamping kuburannya kelak. Sebab,dia ingin seluruh keluarganya dikebumikan disatu tempat yaitu dipesantren yang ia bangun. Kemudian,tibalah saatnya Allah SWT mencabut nyawa Ustadz bersahaja itu.Innalillahi wa innaa ilaihi rajiuun.
Tak lama setelah Ustadz H.Syakir dimakamkan,beberapa bulan kemudian ahli warisnya menjalankan wasiat sang ayah. Mereka mengumpulkan seluruh santri dan pemuda untuk mengeduk kuburan alm. Hj.Hajar dan memindahkan jenazahnya dihalaman belakang pesantren. Dan berita tentang pengedukan itupun tersiar ditelinga penduduk.
Warga kampung sempat heboh. Berita itu cukup mengagetkan warga. Namun karena itu merupakan wasiat dari tokoh ulama setempat,warga akhirnya menerima keputusan ahli waris untuk membongkar kuburan itu.
Rusdi dan ketujuh rekan-rekannya penasaran dengan berita itu. Mereka sempat tertawa di pasar ketika mendengar kabar itu. Ada rasa geli dan jijik membayangkan jika jenazah yang sudah menjadi tengkorak itu bisa dipindahkan. Bagaimana mungkin tengkorak itu bisa dipindahkan. Yang tersisa paling batang-batang tengkorak yang sudah rapuh dan penuh tanah.
Suatu malam,Arigayo yang masih menjadi ketua pemuda kampung itu mendatangi Rusdi dirumahnya. Dia mengajak Rusdi untuk ikut dalam pengedukan kuburan Hj.Hajar. Sebab,bagaimanapun,Rusdi merupakan orang tua yang sangat diperhitungkan dikampung itu.
Ajakan untuk mengeduk kuburan itu kemudian Rusdi sampaikan kepada rekan-rekannya. Ada rasa risih membayangkan tengkorak jenazah Hj.Hajar. Namun,setelah dipikir panjang,dia kemudian menerima ajakan ketua pemuda itu. Dengan catatan,dia hanya mau menghadiri saja. Biar anak-anak buahnya yang ikut mengeduk kuburan.
Saat hari pengedukan kuburan tiba,tidak banyak warga yang hadir. Hanya beberapa pemuda dan orang tua saja. Lantunan kalimat tahlil dikumandangkan para pelayat dilokasi kuburan. Sedikit demi sedikit,tanah liatpun dicangkul. Rusdi hanya diam diantara kerumunan warga.
lima orang pencangkul tiba-tiba berhenti. Dia ingin digantikan dengan orang lain. Warga yang hadir meminta orang melanjutkan pengedukan. Dan Rusdi tidak bisa mengelak saat diminta ketua pemuda dan warga sekitar untuk mengeduk kuburan itu.Rusdi dan beberapa rekannya akhirnya ikut mengeduk kuburan tersebut.
Rasa kebencian Rusdi pada almarhum semasa hidupnya belum juga hilang. Dia masih teringat,dia sempat dibuat malu besar karena dituding sebagai warga yang jauh dari agama dan dijuluki sebagai pemabuk sejati. Ingatan itu belum juga hilang dibenak Rusdi. Saat cangkul perlahan membongkah tanah kuburan itu,dia masih belum rela dengan sikap almarhumah. Dendam dihatinya belum juga hilang. Hingga kemudian,cangkulnya mengenai tepat dibagian daging lengan jenazah.
MasyaAllah. Yang mengenai cangkul Rusdi ternyata bukan tengkorak,melainkan daging yang masih utuh. Semua penggali tertegun diam. Ada rasa aneh dan kagum. Begitupun dengan Rusdi dan kawan-kawannya. Jenazah itu masih utuh dengan beberapa helaian kafan yang juga masih utuh. Setelah jenazah diangkat,ternyata memang benar jenazah itu masih utuh dan tidak rusak sedikit pun.
Rusdi hanya diam dan merasa aneh. Kok bisa,jenazah sudah lama masih utuh. Setelah jenazah itu diangkat keatas,Rusdi diam sendiri disamping jenazah. Dia lalu memisahkan diri dari kerumunan massa. Begitupun dengan rekan-rekannya. Tanpa disadari,butiran air mata keluar dari kelopak mata Rusdi. Satu kata yang keluar dari mulutnya. Astaghfirullahal adzim.
Dia lalu bersimpuh ditanah. Selama ini dia merasa bersalah. Apa yang dia saksikan adalah peringatan baginya dan rekan-rekannya. Dia kemudian sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini adalah salah. Sekian tahun dia telah bergulat dalam dosa dan maksiat. Dia kemudian mengumpulkan rekan-rekannya untuk sadar bahwa minuman keras,berjudi dan merampas hak orang dipasar merupakan perbuatan yang tidak halal. Apa yang disampaikan almarhumah sekitar 30-an tahun silam kini diingatnya kembali. Usai peristiwa itu,Rusdi dan ketujuh temannya kembali kejalan yang benar. Mereka tidak lagi mabuk dan berjudi. Mereka juga meninggalkan pekerjaan yang merampas hak orang lain dipasar. Semua itu dia tinggalkan. Kini,Rusdi bekerja sebagai tukang ojek biasa. Meski penghasilannya kecil,namun itu lebih baik ketimbang merampas hak orang lain. Begitu pun dengan rekan-rekannya. Sebagian dari mereka mengikuti jejak Rusdi. Bahkan,satu diantaranya menjadi santri dipondok pesantren milik alm.. Ustadz H.Syakir. Subhanalloh......
(blog sedek@h).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar